Minggu, 22 Mei 2016

Perbedaan Budaya

Perbedaan Budaya


Indonesia adalah bangsa dengan beragam budaya dan suku yang dimilikinya. Hal tersebut didukung dengan pernyataan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dan negara pemilik bahasa terbanyak nomor dua di dunia. Keberagaman suku, bahasa, ras, dan agama tersebar di penjuru negeri. Dari Sabang sampai Merauke. Dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote. Berjuta keberanekaragaman budaya tertata dalam suatu persamaan hak dan kewajiban antar individu.


Namun, Bangsa Indonesia patut berprihatin. Berbagai macam pertikaian antar suku, agama, dan ras belakangan ini telah membuat resah masyarakat Indonesia. Sebut saja, kerusuhan antar warga Lampung dan Bali di desa Balinuraga, Provinsi Lampung beberapa waktu yang lalu. Lalu yang baru-baru ini adalah Penyerangan Umat Katholik di Sleman, Yogyakarta.


Menyadari akan semakin banyaknya pertikaian yang terjadi di lingkungan kita, seharusnya kita merasa berduka cita dengan kejadian tersebut. Hal ini yang menjadi dampak lunturnya nilai dan moral dari kelima pegangan negeri kita, yakni pancasila. Terutama sila ketiga, yaitu “Persatuan Indonesia”. Belakangan ini, Indonesia terpecah belah akibat lunturnya pengalaman yang terkandung dalam sila tersebut. Seakan diabaikan begitu saja.


Sadar sebagai hamba kepada Sang Pencipta-Nya yang telah diberikan tempat berpijak yang penuh dengan keindahan dan menganugerahkan begitu banyak macam budaya yang meramaikan negeri kita tercinta ini, Indonesia. Patutlah selayaknya mencintai budaya yang ada di negeri kita. Budaya dari ke-34 provinsi.


Memiliki budaya yang beragam dan berbeda bukan hanya untuk dibanggakan. Budaya yang beragam sudah menjadi tugas kita untuk melestarikannya. Walaupun keberanekaragaman budaya yang ada pada bangsa kita terdapat kekurangannya juga. Masyarakat cenderung bekerja dalam kelompok-kelompok, ras atau golongan tertentu. Padahal, suatu masalah akan lebih mudah jika dibicarakan dengan berserikat/berorganisasi. Kekurangan yang lain juga mendasar pada faktor dari luar, seperti negara-negara luar yang sering mengompori dan menjadi pelopor perpecahan di Indonesia. Seperti negara Malaysia yang pernah mencantumkan beberapa budaya Indonesia seperti beberapa budaya yang berasal dari Batak dan Melayu sebagai budaya mereka. Padahal, tindak yang mereka lakukan tidak salah. Karena, orang Batak dan Melayu terdapat juga di Malaysia. Lalu jangan lupakan, Pulau Papua yang hampir lepas karena pengaruh dari negara luar termasuk Amerika Serikat.


Keberanekaragaman seharusnya bukan diartikan sebagai perbedaan, melainkan sebagai “Kesatuan” sehingga keberanekaragaman diterjemahkan menjadi “Kesatuan Budaya” bukan “Perbedaan Budaya”. Tetapi, hal tersebut tidak akan terwujud jika kita masih memandang perbedaan budaya, agama dan ras sebagai batas/sekat untuk kita bersatu. Ingat dahulu, pada Pancasila Sila Pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya.”. Sila yang bercetak miring akhirnya dihapuskan oleh para perumus, karena dianggap akan membawa dampak yang buruk bagi kesatuan negara. Itulah salah satu bukti “nyata” pengorbanan demi negara bukan demi kelompok atau golongan. Hal itu dibuktikan pula dengan adanya 4 (empat) agama yang ada saat itu yakni Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Buddha. Sebelum masuknya agama Kong Hu Chu yang dibawa warga Tiongkok sebagai agama resmi ke 6 pada zaman pemerintahan Abdurrahman Wahid. Pengakuan oleh Presiden tersebut membuktikan sistem pemerintahan yang dianut oleh negara kita yaitu “Demokrasi”, dengan adanya Kebebasan Beragama.


Keberanekaragaman budaya Indonesia dapat kita manfaatkan sebagai ajang pemersatu bangsa. Pancasila adalah salah satu penyangga Indonesia dalam keberanekaragaman budaya tersebut. Namun nilai-nilai yang sudah tertanam sejak dulu kini mulai memudar seiring berkembangnya zaman. Berkembangnya budaya-budaya yang telah menyesuaikan.


Marilah kita sebagai generasi penerus bangsa, sepatutnya mampu mempertahankan budaya dan kerukunan dan persatuan negara. Jangan sampai nilai-nilai moral yang terdapat dalam Pancasila semakin lama akan semakin memudar dan menghilang. Budaya ada bukan untuk dibanggakan namun untuk dilestarikan. Jangan sampai budaya ketimuran yang cenderung konservatif akan berkembang menjadi budaya barat yang terlalu “liberal”. Marilah mulai dari sekarang, kita buka pikiran kita untuk menerima perbedaan itu dan setidaknya menghargainya. Karena budaya adalah kegiatan yang sudah dilakukan sejak jaman dahulu oleh nenek moyang. Artinya, budaya adalah warisan dunia bangsa Indonesia.


Mari bersama-sama kita lestarikan keberanekaragaman budaya Indonesia. Ingat jangan jadikan budaya sebagai perbedaan namun jadikan sebuah pemersatu. Langkah awal mari kita mulai dari diri terlebih dahulu, jika bukan kita yang melestarikannya? Siapa Lagi? Dan jika bukan sekarang, Kapan lagi? Indonesia bersatu karna kita bersatu.

Penulis : Rahmatia
Editor  : Aufa Hilman Furqon

                                                                                                            




Share:
Diberdayakan oleh Blogger.